Langsung ke konten utama

Jurang Maut

Mentari mulai menampakkan wajahnya di balik pepohonan, mengetuk kelopak mata Ashila yang sedang berpetualang di dunia mimpinya.
 “Sayang, bangun!” suara itu membangunkannya.
 Ashila pun bergegas meninggalkan tempat tidurnya, sekarang adalah hari pertama ia tinggal di desa itu. Setelah membersihkan badannya, dia kembali untuk membereskan tempat tidurnya. Setiba di kamarnya, terdengar suara tangisan seorang gadis entah dari mana asalnya. Dengan rasa penasaran Ashila membuka jendela dan mengawas di jendela kamarnya. Ternyata benar ia adalah seorang gadis kecil yang menangis, namanya adalah Keisya.
“Kamu kenapa? Kok nangis?” tanyanya pada gadis itu.
“Aku tak mengapa, aku hanya ingin mengambil bunga di dekat sungai itu, tapi aku takut bila hanya sendiri. Apakah kau mau menemaniku?” sahut gadis itu dengan tersedu-sedu.
“Aku mau menemanimu, asal kau berjanji tidak akan menangis lagi. Oh iya, namamu siapa?” .
“Aku berjanji tidak akan menangis lagi. Namaku Keisya, namamu siapa?” Keisha pun juga bertanya pada Ashila.
“Oke, namaku Ashila. Ayo kita pergi!” kedua gadis itu pun pergi menuju sungai tersebut.
Hari terus berganti, mereka selalu melakukan hal yang sama dan mereka pun bersahabat dengan baik. Suatu hari secara tidak sengaja ibu melihat Ashila sedang berdiri di dekat jendela.
“sedang apa ya dia? Sepertinya sedang melakukan sesuatu.”  tanyanya dalam hati.
Karena Bu Tanti merasa ada yang aneh dengan anaknya, ia berniat mengintip anaknya di balik pintu itu. Menit demi menit ia tetap berdiri kini ia merasa lelah, duduklah ia di sofa yang terletak di ruang tamu. Hingga akhirnya Ashila berpamitan kepada ibunya untuk pergi bermain bersama Keisya. Ibunya pun mengijinkannya untuk pergi bersama Keisya, tetapi hati sang ibu masih bertanya-tanya siapa Keisya, apa sejak tadi anaknya berbicara dengan Keisya. Padahal Bu Tanti tidak melihat siapa-siapa sedari tadi.
Hari berganti minggu Ashila terus melakukan hal aneh yang sama. Kecurigaan sang ibu pun semakin menggunung.
“Ada apa dengan anakku? Kenapa akhir-akhir ini tingkahnya aneh sekali?” batinnya.
Suatu hari Ashila jatuh sakit. Suhu badannya tinggi dan kepalanya sakit seperti dibenturkan ke dinding. Ibunya pun mengantarkan Ashila untuk menemui dokter. Setelah diperiksa ternyata hanya demam biasa. Mentari sepertinya akan tidur dan bulan akan menggantikannya, sayangnya Keisya tak kunjung datang. Sedari tadi Ashila berharap Keisya akan menemuinya, ternyata Keisya tak juga menampakkan wajahnya sehari itu.
Setelah dua hari dia terbaring di kamarnya, akhirnya dia bangkit kembali. Ashila terkejut saat dia melihat wajah Keisya di balik jendela kamarnya. Muka Keisya pucat pasi, ia tak tega melihatnya.
Kemudian ia bertanya,”Keisya kamu kenapa? Kok mukamu pucat? Kamu sakit?”
“Enggak kok aku baik-baik saja.” jawab Keisya.
“Ya sudah, mengapa dua hari lalu kamu tak pernah berkunjung ke sini? Sudah dua hari aku sakit, baru saja aku bisa bangun. Aku mengaharapkanmu menjengukku, tapi kamu gak datang.” cerita Ashila kepada Keisya.
“Yah maaf, kemarin aku ada kepentingan jadi tidak sempat mengunjungimu. Apa kamu sudah sembuh?” tanya Keisya.
“Iya gak papa kok. Aku sudah sembuh. Sebagai gantinya, mau gak kamu nemenin aku jalan-jalan ke sungai itu?” jawab Ashila.
“Iya, ayo kita pergi.” ajak Keisya.
Sesampainya di sana, mereka melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka lakukan bila mengunjungi tempat itu. Hanya sekedar mengambil bunga, bercerita tentang pengalaman mereka, dan Ashila yang tak pernah bosan mendengarkan cerita Keisya tentang keindahan bunga itu. Di saat matahari akan terbenam mereka pun kembali pulang.
Saat ini Keisya jarang menemuinya, entah apa yang terjadi hingga Keisya jarang menemui Ashila. Ashila merasa sedih dan merasa bersalah, hatinya selalu bertanya mengapa Keisya jarang menemuinya. Dia sangat menyayangi Keisya.
Seminggu berlalu, Keisya tak pernah mengunjungi Ashila lagi. Rasa bersalahnya semakin menggebu-gebu. Dia menangis setiap malam dan selalu bertanya-tanya, ke mana Keisya, ada apa dengannya, mengapa ia tak pernah menemuiku, selalu pertanyaan itu yang menghantuinya. Hingga pada suatu malam ibunya bertanya kepada Ashila, tentang apa yang terjadi.
“Sayang, kenapa menangis?” tanya ibunya.
“Ashila sedih Bu, mengapa Keisya tak pernah menemui Ashila lagi? Ashila merasa bersalah padanya. Apa ada yang salah dengan tingkahku hingga dia marah padaku dan tidak mau menemuiku lagi?” tanya Ashila sambil menangis.
“Enggak Sayang, mungkin Keisya menuggumu di tempat kalian biasa bermain. Ayolah, hapus air matamu, ibu tak suka melihatmu menangis. Oh iya, Keisya itu siapa? Kau tak pernah membawanya kemari?” tanya ibu.
“Baiklah, aku akan menemuinya besok. Keisya adalah adalah sahabatku, dia baik, cantik, ramah lagi. Dia selalu menemuiku di dekat jendela, kemudian kami bermain di sungai dekat sawah sana.” Jawab Ashila.
“Oh ya? Kapan-kapan ajak dia ke sini.” hibur ibu kepada Ashila, akan tetapi dia semakin curiga. Ia sering melihat anaknya berbicara tapi tak ada seorang pun disekitarnya. Sungguh aneh, namun hal itu sering terjadi.
Keesokan harinya Ashila menemui Keisya di sungai itu. Namun yang terjadi bukanlah Ashila yang menemui Keisha tetapi Ashilalah yang menunggu. Dia menunggu hingga petang datang, tak ada seorang pun yang ia temui termasuk Keisya. Yang ada hanyalah petani yang ia lihat setiap hari, apabila ia berkunjung ke tempat itu. Setiap hari Ashila mengunjungi tempat itu untuk menemui Keisya, tetapi yang terjdi hanyalah sama dengan hari-hari sebelumnya. Apabila mentari akan terbenam ia pun kembali ke rumah.
Suatu hari di saat ia berkunjung ke tempat itu, ada seorang petani yang datang menghampirinya.
“Sedang apa di sini Nak? Bapak sering melihatmu ke tempat ini sendiri” tanya petani itu.
“Saya sedang menunggu teman saya Pak, dulu dia sering mengajak saya ke tempat ini untuk mengambil bunga itu.” jawabnya
“Tapi kok aneh sekali ya, sudah lama tidak ada yang berani ke tempat ini. Hanya kamu yang berani mengunjungi tempat ini sendirian, dan itu kamu lakukan setiap hari.” kata bapak itu.
“Jadi tidak ada yang berkunjung ke sini Pak? Sebulan yang lalu saya sering kesini bersama teman saya. Apa Bapak tak melihatnya?” Ashila pun bertanya-tanya apa maksud bapak ini.
“Kamu sering berkunjung ke sini sendirian, Bapak tidak pernah melihatmu bersama temanmu.” jawab petani itu dengan heran.
“Apa Bapak tidak mengenal gadis kecil yang bersama saya? namanya Keisya.” tanyanya.
“Apa? Keisya gadis kecil itu? Dia sudah meninggal 50 hari yang lalu, dia meninggal karena terjatuh di sungai mati ini. Memang banyak yang menduga gadis tersebut mengunjungi tempat ini karena ingin mengambil bunga itu” cerita bapak itu.
Astagfirullah, lalu siapa yang sering aku lihat? Siapa yang sering bermain denganku? Apa benar ia telah tiada.” tanya hatinya.
Sambil tercengang, Ashila menangis mendengar cerita petani tadi. Dia mersa sedih juga merinding dengan kejadian itu. Terlihat tanah yang terkikis seperti bekas orang terjatuh dan sebuah sandal yang tersisa di situ, namun hal itu baru disadarinya. Kelopak bunga yang selalu ia petik bersama Keisya pun berjatuhan seakan merasakan dukanya.

TAMAT

Komentar