Aku masih mengingat dengan jelas, saat itu kita duduk berhadapan dalam satu meja makan. Kamu seseorang yang kuharapkan untuk duduk pada meja makan yang sama denganku beberapa tahun lagi, saling berhadapan, berkata lewat dua pasang mata yang bertemu untuk saling mengemukakan rindu atau hal tidak penting lain. Aku meminum segelas teh manis yang terasa dingin dan terlihat sudah separuh tempat. Kamu bercerita seolah-olah waktu tak pernah hadir untuk memberikan batasan. Berbicara dari topik marmut lucu sampai hidup manusia pemilik jabatan pun turut andil didalamnya. Aku yang hanya terdiam dan sesekali tertawa mendengar pendapat yang menurutku tak masuk akal. Ekspresi wajah yang berbeda muncul disela-sela perdebatan kita berdua. Bibirku tak mau ketinggalan untuk ikut berdiskusi didalamnya, dengan pikiran yang masih mencari topik untuk tetap membangun percakapan. Kejadian ini terulang pada hari yag lain. Indera perasaku sedikit tersadar bahwa tehku tak semanis tadi, kornea mata yang se...