Aku masih mengingat
dengan jelas, saat itu kita duduk berhadapan dalam satu meja makan. Kamu
seseorang yang kuharapkan untuk duduk pada meja makan yang sama denganku
beberapa tahun lagi, saling berhadapan, berkata lewat dua pasang mata yang bertemu
untuk saling mengemukakan rindu atau hal tidak penting lain. Aku meminum
segelas teh manis yang terasa dingin dan terlihat sudah separuh tempat. Kamu
bercerita seolah-olah waktu tak pernah hadir untuk memberikan batasan.
Berbicara dari topik marmut lucu sampai hidup manusia pemilik jabatan pun turut
andil didalamnya. Aku yang hanya terdiam dan sesekali tertawa mendengar
pendapat yang menurutku tak masuk akal. Ekspresi wajah yang berbeda muncul
disela-sela perdebatan kita berdua. Bibirku tak mau ketinggalan untuk ikut
berdiskusi didalamnya, dengan pikiran yang masih mencari topik untuk tetap
membangun percakapan. Kejadian ini terulang pada hari yag lain.
Indera perasaku sedikit
tersadar bahwa tehku tak semanis tadi, kornea mata yang sedari tadi memandangmu
berbalik arah menatap benda kaca kosong yang sama dinginnya seperti yang tadi.
Tersisa dua bongkah esbatu yang kutelan bersamaan dengan sebongkah es yang juga
membuatmu terlihat lebih cubby dari biasanya. Terkadang aku berpikir kita
memiliki kesamaan. Bukan seolah berkaca pada cermin yang kumaksud, ataupun
seperti plagiator yang dengan seenaknya menjiplak karya. Kita adalah dua mata
koin yang terlahir dari persamaan. Tentang kebiasaan yang sama sampai pola
pikir yang sama yang mungkin bisa dianggap suatu kebetulan Tuhan. Soal kondisi
hati yang sama-sama terluka, suatu kebetulankah untuk saling menyembuhkan? Dari
pasang mata yang tak begitu berfungsi dengan baik saat memandang kita, suatu
kebetulankah untuk saling menguatkan dan mengembalikan fungsi pasang mata itu
untuk kita? Kita tak pernah tau, dari sekian banyak kebiasaan yang sama akan
terlahir keadaan dimana kita sedang sama sama memikirkan.
Komentar
Posting Komentar