Langsung ke konten utama

Postingan

“Mohon Perhatian, sesaat lagi kereta api akan tiba di Stasiun Probolinggo.

Banyak sih sebenarnya tempat-tempat di Indonesia yang masih ingin saya kunjungi, kebetulan juga saya itu suka sama yang namanya “Travelling”. Tapi entah kenapa kali ini saya dan teman-teman malah memutuskan untuk mengunjungi Kota Anggur Mangga yang tidak lain adalah tempat tinggal saya sendiri. Kota kecil yang terletak di Provinsi Jawa Timur ini begitu lekat dengan kalimat “Yang ada Gunung Bromonya itu ya?”. Nah tulisan ini nih , akan menceritakan kemana saja sih Kami selama disana, dan yang terpenting berapa budget yang Kami habiskan untuk liburan kali ini? Bromo Sore itu, Kami larut dalam pembicaraan Kami di gerbong kereta. Hingga kecepatan kereta terasa semakin melambat dan pengumuman terdengar bahwa Kami akan segera tiba di Stasiun Probolinggo. Kami menempuh perjalanan selama 8 jam 38 menit menggunakan Kereta Api Logawa. Sesampainya di Probolinggo kami melaksanakan ibadah dan menunggu jemputan datang. Kebetulan sih, lokasi stasiun berdekatan dengan Alun-Al...
Postingan terbaru

Persamaan

Aku masih mengingat dengan jelas, saat itu kita duduk berhadapan dalam satu meja makan. Kamu seseorang yang kuharapkan untuk duduk pada meja makan yang sama denganku beberapa tahun lagi, saling berhadapan, berkata lewat dua pasang mata yang bertemu untuk saling mengemukakan rindu atau hal tidak penting lain. Aku meminum segelas teh manis yang terasa dingin dan terlihat sudah separuh tempat. Kamu bercerita seolah-olah waktu tak pernah hadir untuk memberikan batasan. Berbicara dari topik marmut lucu sampai hidup manusia pemilik jabatan pun turut andil didalamnya. Aku yang hanya terdiam dan sesekali tertawa mendengar pendapat yang menurutku tak masuk akal. Ekspresi wajah yang berbeda muncul disela-sela perdebatan kita berdua. Bibirku tak mau ketinggalan untuk ikut berdiskusi didalamnya, dengan pikiran yang masih mencari topik untuk tetap membangun percakapan. Kejadian ini terulang pada hari yag lain. Indera perasaku sedikit tersadar bahwa tehku tak semanis tadi, kornea mata yang se...

Perjalanan Tak Terduga (Wediombo, Yogyakarta)

Yang terjadi adalah logikaku selalu menciptakan perjalan sederhana tanpa rencana. Didalangi oleh pikiran buruk tentang kekhawatiran mahasiswa semeter tanggung soal digit yang dianggapnya sebagai tolak ukur atas seberapa jauh pemahaman yang ia miliki. Membidik satu persatu jiwa risau yang sepemikiran. Memulai perjalanan dengan sedikit mengingat cara bersenang-senang. Mulai memikirkan pada titik koordinat mana sebuah kita akan lupa. Dengan riuh suara ombak yang dijadikan sebagai pilihan.   "Jogja masih istimewa" kataku dengan nada yang sedikit berbisik. Gadis belia yang akan segera merasakan beratnya pikiran manusia seperlima abad mulai berjalan mendekati dengan meluruskan barisan untuk ikut berbincang atau sekedar mendengar percakapan dua gumpal daging lain. "Jangan berisik! Aku tak sudi, istimewanya dinikmati pasang mata lain yang hanya menjamah tanpa mampu menjaga." nada suaranya memecah keheningan kala itu, kedua alisnya sengaja bertemu menyaingi tingginy...

Jurang Maut

Mentari mulai menampakkan wajahnya di balik pepohonan, mengetuk kelopak mata Ashila yang sedang berpetualang di dunia mimpinya.  “Sayang, bangun!” suara itu membangunkannya.  Ashila pun bergegas meninggalkan tempat tidurnya, sekarang adalah hari pertama ia tinggal di desa itu. Setelah membersihkan badannya, dia kembali untuk membereskan tempat tidurnya. Setiba di kamarnya, terdengar suara tangisan seorang gadis entah dari mana asalnya. Dengan rasa penasaran Ashila membuka jendela dan mengawas di jendela kamarnya. Ternyata benar ia adalah seorang gadis kecil yang menangis, namanya adalah Keisya. “Kamu kenapa? Kok nangis?” tanyanya pada gadis itu. “Aku tak mengapa, aku hanya ingin mengambil bunga di dekat sungai itu, tapi aku takut bila hanya sendiri. Apakah kau mau menemaniku?” sahut gadis itu dengan tersedu-sedu. “Aku mau menemanimu, asal kau berjanji tidak akan menangis lagi. Oh iya, namamu siapa?” . “Aku berjanji tidak akan menangis lagi. Namaku Keisya, namamu s...