Langsung ke konten utama

Perjalanan Tak Terduga (Wediombo, Yogyakarta)


Yang terjadi adalah logikaku selalu menciptakan perjalan sederhana tanpa rencana. Didalangi oleh pikiran buruk tentang kekhawatiran mahasiswa semeter tanggung soal digit yang dianggapnya sebagai tolak ukur atas seberapa jauh pemahaman yang ia miliki. Membidik satu persatu jiwa risau yang sepemikiran. Memulai perjalanan dengan sedikit mengingat cara bersenang-senang. Mulai memikirkan pada titik koordinat mana sebuah kita akan lupa. Dengan riuh suara ombak yang dijadikan sebagai pilihan.  
"Jogja masih istimewa" kataku dengan nada yang sedikit berbisik. Gadis belia yang akan segera merasakan beratnya pikiran manusia seperlima abad mulai berjalan mendekati dengan meluruskan barisan untuk ikut berbincang atau sekedar mendengar percakapan dua gumpal daging lain. "Jangan berisik! Aku tak sudi, istimewanya dinikmati pasang mata lain yang hanya menjamah tanpa mampu menjaga." nada suaranya memecah keheningan kala itu, kedua alisnya sengaja bertemu menyaingi tingginya puncak merbabu yang selalu disukai banyak pasang mata. Tak ada suara lain yang berusaha menandingi, hanya dua bagian bulu mata dengan posisi saling berjauhan, serasa tak punya tenaga untuk saling mengait. Menikmati langit yang mulai menggelap dengan lukisan warna senja sebagai pertanda. Waktu yang tepat bagi setiap lelah untuk pulang kerumah, menutup daun pintunya rapat-rapat dan kemudian melanjutkan mimpi semalam yang belum sampai pada tujuan. Mengistirahatkan setiap rindu yang ditinggalkan sedari pagi karena si waktu yang dengan sengaja menyibukkan agar manusia sudi mengejarnya. Bertemu dengan banyak hati yang memiliki warnanya masing-masing. Hari adalah catatan bahwa banyak lelah yang harus dipulangkan. Bukan hanya sekedar merobek tanggal lalu yang usang tapi tanda bahwa sejarah harus tercipta sebelum satu persatu rekatan itu aku lepaskan dengan sengaja.
Menghentikan kesenangan hanya dengan ingatan soal tugas masing-masing adalah tradisi yang dilakukan banyak pasang kaki yang sengaja melarikan diri beberapa waktu untuk sekedar menemukan kata puas. Dengan harapan kota ini tetap ramah dan istimewa untuk ditinggali mahasiswa rantau yang mengimpikan rasa nyaman dan selalu mencari peraduan saat dunianya selalu berseteru dengan jiwa belianya.
Gunungkidul, 12 januari 2018
-Penikmat hari-

Tercatat untuk pembaca: Pantai ini terletak di Daerah Gunungkidul Yogyakarta tepatnya di https://www.google.co.id/maps/place/Pantai+Wedi+Ombo/@-8.1902123,110.7081885,17z/data=!3m1!4b1!4m5!3m4!1s0x2e7bb885aaaaaaab:0x346f4fcd230e2a8f!8m2!3d-8.1902176!4d110.7103772?hl=en. Saya sarankan untuk berkunjung saat sore hari. Dipantai ini pengunjung dapat melihat matahari terbenam (Sunset).

Komentar